Mungkin santai bentar dari rutinitas yang ada, skripsi terus merenggut waktu dan tenaga, tapi inilah jalan yang harus ditempuh. Pergulatan waktu dan buku membuat semua menjadi kaku dan gatal. Kaku menjadi seorang yang sok pemikir dan gatal menjadi seorang yang kotor

Teringat obrolan pagi buta di facebook chat tentang kamera SLR ma pemilu. Kayaknya dari dua “benda” ini mempunyai kesamaan yang sama walau tak sama. Ini juga masih “analisa” yang belum tentu bisa dipercaya kebenarannya alias subjektif banget.

Pertama, dari “muter-muter” di internet terutama facebook, kayaknya semakin banyak orang yang “menggandrungi” fotografi. Bawa-bawa kamera SLR, kalau nggak, ya pose lagi moto, kira-kira begitu kebanyakan foto sekarang yang di “tempel” di foto profil facebook. Kayaknya itu yang lagi trend di Indonesia atau memang dunia dan temen-temen di Indonesia yang kebanyakan tukang foto alias fotografer. Apa memang harganya murah kamera gituan di Indonesia?

Haruskah gambar ini?

Kedua, yang sama-sama lagi ngtrend di Indonesia, pemilu. Ni sama-sama ngtrend nih di Indonesia, Mungkin penulis akan sedikit “menceritakan” sedikit apa persamaannya.

Sebelumnya, terima kasih telah ada ajaran demos kratos ini yang telah berada di tengah-tengah kita. Dengan banyaknya “suara” yang boleh “berbicara” dan alur pembagian suara yang terarah di lorongnya, partai politik.

Sama halnya dengan sebuah kamera, kamera lama dan masih pake roll film, kayaknya harganya serupa dengan harga satu buah motor mungkin bisa lebih. Roll film peka cahaya dan tidak murah, sama kayak paragraf di atas, esensi dari roll film yang peka cahaya yang hanya bisa “diambil” dari kamera lama. Dan jika hasilnya fotonya gagal, harga yang cukup mahal untuk mengganti roll film, muskipun itu hanya satu layer.

Tapi kembali lagi ke sang fotografer, apakah dia sudah cukup “umur” dalam fotografi. Mungkin ini yang terjadi di kita, peserta pemilu yang masih belum well educated. Yang ada sekarang, masyarakat kita capek dengan hingar-bingar pemilu. Penikmat pemilu adalah pelaku politik, bukan masyarakat. Yang orang banyak inginkan mungkin “bagaimana saya bisa makan, setidaknya sehari tiga kali” atau hal-hal serupa yang menggambarkan bagaimana saya hari ini bisa “hidup”.

Frued, “manusia tak lebih dari libido maximixer, yang terus berusaha memaksimalkan pemenuhan keingingnan yang notabene berlangsung secara terus menerus”

Lacan, “manusia selalu dalam kondisi kekuarangan, dan hanya hasrat yang mampu memnuhi kekurangan tsb.”

Kalo di kamera mungkin, menyiapkan dari batrai, memori card atau roll film sekalipun. Seperti layaknya mau melakukan pemotretan. Semua harus di persiapkan sampai mental pun harus siap. Terkadang mood hilang atau ide tiba-tiba hilang. Niat membuat sebuah suatu karya seni akan tergantung dengan hati kita juga. Mungkin di agama Islam menyebutkan, semua hal semua tergantung dengan niat. Apakah sang fotografer siap dalam mental yang “suci” untuk menciptakan suatu karya seni?

Rancangan “peta” pemotretan juga tidak lupa di siapkan, dari baleho-baleho, spanduk, sampai agitasipun disiapkan. Foto yang seperti apa yang diinginkan sang fotografer. Apakah, retro, klasik, modern atau postmodern sekalipun.

Hal yang paling menarik, memilih model. Semua cantik, semua ganteng, semua punya badan yang proporsional, semua memenuhi syarat secara fisik tapi apakah kecantikan, kegantengan, kepropolsionalan itu juga berada di dalam diri sang model? Kayaknya untuk dunia fotografi itu semua tidak perlu, yang penting dia bisa secara fisik membawakan siapa dirinya dan seyum saat di foto. Tidak lupa beraksi yang menggairahkan, sehingga para penikmat foto menjadikannya idola favorit. Dan yang lebih gila lagi, saat sudah “jumpa penggemar”, mereka melakukan kegiatan “sosial”, biar para fans atau saingannya bisa lebih mantap dengan idolanya.

Terus saat sesi pemotretan selesai, bisa kita lihat. Siapa fotografer, siapa model, dimana lokasi pemotretan dan hasilnya seperti apa.

Kamera dan pemilu sama-sama hal yang mahal bagi penulis, sama-sama hal yang membingungkan untuk menentukan angel-angel bagus, sama-sama menampilkan kebagusan atau pun kejelekan sekalipun.

Darwadi

Mahasiswa S-1 VGU,

Voronezh – Rusia

One Response to “Kamera dan Pemilu”

  1. darwadi says:

    huhahahahahaha, ada yang bingung ma foto diatas???

    kalo kata gw sih, ini udah masuk surealist,,, harus di pikir dulu, jadi g taken for granted

    hehehehehe

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>