Telah terjadi kesalah kaprahan yang luar biasa yang terjadi di Republik Indonesia dengan layanan mobile internet yang dikeluarkan oleh perusahaan telepon seluler tanah air. Mobile internet yang di dalam promosinya dicanangkan sebagai layanan internet bergerak untuk mendukung mobilitas penggunanya ternyata digunakan sebagai layanan dedicated internet pengguna rumahan. Dimana penggunaan datanya sangatlah ekstensive. Dalam hal ini download dan upload file berukuran besar, layanan video streaming berkualitas tinggi yang memakan bandwith sangat besar, tentu saja sangat berbeda bila dibandingkan dengan penggunaan bandwith perangkat seluler multimedia yang ukuran maksimal layarnya hanyalah 3,5 inchi.

Suatu pemborosan pite frekuensi yang sangat luar biasa. Patut diingat bahwa pita frekuensi untuk layanan seluler sangatlah terbatas. Untuk itu harus digunakan seefisien mungkin. Karena pada prinsipnya, pita frekuensi yang disediakan oleh pemerintah Indonesia untuk operator seluler tidaklah terlalu lebar. Berkisar antara 10 Mhz – 30 Mhz, untuk masing-masing operator seluler.

 

Alokasi pita frekuensi radio sendiri harus berebut dengan alokasi-alokasi lain untuk layanan satellite, maritime, radar sampai dengan penggunaan keperluan militer. Sehingga penggunaan layanan mobile internet sebagai dedicated internet rumahan dikhawatirkan dapat mengganggu pengguna seluler lain yang membutuhkan pita frekuensi untuk layanan suara maupun layanan internet bergerak di handset mereka.

Sekaligus merugikan nama baik operator yang telah menjanjikan kecepatan koneksi internet yang luar biasa untuk layanan mobile internet baik berbasis 3G maupun CDMA ataupun EVDO. Tetapi ternyata telah disalahgunakan sehingga kualitasnya tidak bisa maksimal lagi. Bagaimanapun sekali lagi perlu ditekankan, layanan kecepatan tinggi ini ditujukan untuk layanan data/internet yang terdapat pada perangkat telepon seluler multimedia, bukan pengguna rumahan yang selama 24 jam relatif aktif terus menerus.

Tidak bisa disalahkan di Republik Indonesia, dengan beralasan mahalnya biaya infrastruktur koneksi data/internet. Suatu hal yang sebenarnya menampar telak muka PT. Telkom sebagai incumbant yang menguasai pangsa pasar terbesar layanan internet rumahan maupun bisnis. PT. Telkom yang selama ini mengeluh pangsa pasar telepon kabelnya terus menerus menurun atau bahkan bisa dikatakan merugi karena tidak bisa bersaing dengan layanan seluler, dalam hal ini telah dapat memberikan harga yang lebih rendah karena investasi awal tidaklah semahal telepon kabel dan mempunyai kelebihan dalam hal mobilitas. PT. Telkom seharusnya bisa menganggap jaringan kabel tembaganya sebagai aset emas untuk mendapatkan pelanggan yang lebih banyak di ceruk calon pelanggan yang membutuhkan koneksi data. Karena kabel tembaga tidaklah seperti pita frekuensi radio yang termasuk dalam jenis terbatas dan tidak terbaharukan. Kabel tembaga dapat dilipatgandakan kecepatannya dengan teknologi DSL dan turunannya dan dapat ditambah secara fisik sebanyak apapun yang kita mau tanpa mengganggu pihak lain karena hanya memakan tempat yang relatif kecil.

Paradigma divisi telepon kabel PT. Telkom harus dirubah. Bukan lagi mengandalkan pemasukan dari layanan suara, tetapi lebih ke dalam pelayanan data/internet. Tentu saja harus diimbangi dengan penurunan tarif layanan data/internet yang lebih mengedepankan kuantitas jumlah pelanggan daripada kecepatan keterkembalian modal. Sekaligus menyatukan divisi multimedia PT.Telkom menjadi terintegrasi dengan divisi telepon kabel. Bukan seperti pada saat ini yang berjalan dalam dua divisi terpisah.

 

Darmawan Wicaksono

Mahasiswa Magister MADI-GTU,

Moscow, Rusia

One Response to “Layanan mobile internet dari operator seluler bukan layanan dedicated internet rumahan”

  1. busron says:

    Ternyata ada permasalahan serius yg “tersembunyi” dibalik perang tarif internet di pulau Jawa dan Sumatra (eh, Indonesia deng he3).

    Ini kasusnya klasik bgt..

    Kalo gak banjir, ya gak ada reboisasi – kalo gak banyak MD-90 yg kecelakaan, ya gak ada aturan di grounded – kalo kebudayaan Indonesia gak di colong Malaysia (katanya), ya gak ada yang merhatiin..

    dan “kalo gak – kalo gak” yang lainnya..

    semuanya nunggu “bermasalah” dulu, baru deh dicari jalan keluarnya..

    dan gak tau kenapa, mnrt saya, semua itu berakhir kepada masalah yang lebih klasik yaitu.. alasan ekonomi..

    :)

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>