Perasaan yang mulia mendekati kita

Di hati mereka mengharap makanan

Cinta yang membara kepada tanah air

Cinta untuk kuburan sang ayah

-A.C. Phuskin-

Sebelumnya penulis ingin mengenalkan A.C. Phuskin, seorang penulis yang cukup termasyur di tanah airnya, Rusia. Tulisan ini pun hanya bagaian kecil dari pemikiran penulis tentang Indonesia. Manusia ingin berbeda demi pengakuan atas dirinya, begitu pula sebuah bangsa. Kita masih punya harga diri dan kita tidak bisa terpatok pada situasi yang ada dan dominasi-hegemoni. Kita merupakan bangsa yang kaya, besar tapi kenapa hingga saat ini kita masih terpuruk dengan adanya dominasi-hegemoni asing. Meraung-raung hingga kelaparan di rumah kita sendiri. Sudah cukup bangsa kita menjadi Negara yang pragmatis, menjadi pembeli pertama, bangga akan hasil karya asing dan terbuai akan dunia utopia yang berstatus metropolitan. Ini merupakan kisah klasik.

Populi Vacante, kekosongan masyarakat.

Sejarah kita sendirilah yang menghancurkan kita, dan kita terus percaya akan mitos-mitos lama yang disebar oleh para “pemikir-pemikir” gadungan era 32 tahun “penjajahan”. Era keterpurukan masih akan terus berlanjut hingga suatu era “pencerahan” datang.

Setiap tahun bangsa kita menghasilkan manusia-manusia berpengetahuan luas, tapi hanya sedikit menjadi yang menjadi “dirinya sendiri”. Imperialisme kolonialisme belanda mewariskan sekolah-sekolah etisi yang ilmu pengetahuannya adalah belas kasih masyarakat terdidik kepada golongan masyarakat tidak terdidik. Wadah mental mau menang sendiri dan kekasaran tidak peduli sebagai lahan subur penindasan.

Permainan sulap yang hebat, masuk dalam lembah gelap imperialis baru dan hilanglah jati dirinya. Bangsa yang besar, bangsa yang tidak pernah menghargai hasil jerih payah seseorang, berdalil kita belum bisa melakukan itu karena keterbatasan kita. Penulis mungkin lebih menikmati semua ini dari kejauhan, dan penulis akan terus menikmati ini. Kemampuan berpikir kita telah di batasi oleh golongan-golongan partikelir yang mengklaim dirinya benar. Pembodohan massal.

Buku suci perubahan adalah logika sosial yang terbentuk dari bukan hanya satu, dua atau tiga kelas sosial tapi juga semesta kesadaran yang mengendap, mendasari relasi sosial antar kelas dalam masyarakat. Tapi sekarang apakah masyarakat kita mau bergerak? Apakah masyarakat kita mau bersatu? Dan saat ini, perkembangan budaya barat, menjadi pertanyaan bagi penulis, apakah itu merupakan simbiosis atau konflik kepentingan. Sudah tentu, perkembangan pasar kapital dengan dalil demokrasi menciptakan lahan pasar yang menuntungkan. Tapi disisi lain, ketergantungan inilah yang membuat masyarakat kita menjadi budak. Tergesernya rasa cinta terhadap tanah air atau mungkin merasa malu dengan tanah air menjadi masyarakat madani bangsa lain. Hal yang memilukan dan ironi.

Selama matahari masih di ufuk timur, namamu didarahku

Semua pesimis tak mau teleskopis

Tak mau tau dekadensi moral mengikis

Konyol karena menginggalkan kode etis

Hukum pun kini tiada yang logis

Khasah masa lampau telah banyak terenggut

Di ikuti interpretasi risalah yang kusut

Dia yang lemah yang kan bertekukuk lutut

Hukum rimba lah yang akan dianut


Darwadi

Mahasiwa S-1 VGU,

Voronezh – Rusia

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>