<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ebulletin.ppirusia.org</title>
	<atom:link href="http://ebulletin.ppirusia.org/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ebulletin.ppirusia.org</link>
	<description>Buletin elektronik Mahasiswa Indonesia di Rusia</description>
	<lastBuildDate>Sun, 31 Jan 2010 01:06:32 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Kampus di Rusia</title>
		<link>http://ebulletin.ppirusia.org/?p=197</link>
		<comments>http://ebulletin.ppirusia.org/?p=197#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Jan 2010 00:29:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rifai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gallery]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ebulletin.ppirusia.org/?p=197</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa kampus di berbagai kota di Rusia tempat mahasiswa Indonesia menuntut ilmu
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa kampus di berbagai kota di Rusia tempat mahasiswa Indonesia menuntut ilmu</p>

<div class="ngg-galleryoverview" id="ngg-gallery-6-197">


	<!-- Piclense link -->
	<div class="piclenselink">
		<a class="piclenselink" href="javascript:PicLensLite.start({feedUrl:'http://ebulletin.ppirusia.org/wp-content/plugins/nextgen-gallery/xml/media-rss.php?gid=6&amp;mode=gallery'});">
			[View with PicLens]		</a>
	</div>
	
	<!-- Thumbnails -->
		
	<div id="ngg-image-26" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://ebulletin.ppirusia.org/wp-content/gallery/kampus/bgu.jpg" title="Belgorod State University-Belgorod" class="shutterset_set_6" >
								<img title="BGU" alt="BGU" src="http://ebulletin.ppirusia.org/wp-content/gallery/kampus/thumbs/thumbs_bgu.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-27" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://ebulletin.ppirusia.org/wp-content/gallery/kampus/kubstu.jpg" title="Kuban State University-Krasnodar" class="shutterset_set_6" >
								<img title="KubSTU" alt="KubSTU" src="http://ebulletin.ppirusia.org/wp-content/gallery/kampus/thumbs/thumbs_kubstu.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-30" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://ebulletin.ppirusia.org/wp-content/gallery/kampus/rgung.jpg" title="Gubkin Russian State University of Oil and Gas-Moscow" class="shutterset_set_6" >
								<img title="RGU-NG" alt="RGU-NG" src="http://ebulletin.ppirusia.org/wp-content/gallery/kampus/thumbs/thumbs_rgung.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-29" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://ebulletin.ppirusia.org/wp-content/gallery/kampus/puskhin.jpg" title="Pushkin State Russian Language Institute-Moscow" class="shutterset_set_6" >
								<img title="Pushkin" alt="Pushkin" src="http://ebulletin.ppirusia.org/wp-content/gallery/kampus/thumbs/thumbs_puskhin.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 	 	
	<!-- Pagination -->
 	<div class='ngg-navigation'><span>1</span><a class="page-numbers" href="http://ebulletin.ppirusia.org/?p=197&amp;nggpage=2">2</a><a class="page-numbers" href="http://ebulletin.ppirusia.org/?p=197&amp;nggpage=3">3</a><a class="page-numbers" href="http://ebulletin.ppirusia.org/?p=197&amp;nggpage=4">4</a><a class="page-numbers" href="http://ebulletin.ppirusia.org/?p=197&amp;nggpage=5">5</a><a class="page-numbers" href="http://ebulletin.ppirusia.org/?p=197&amp;nggpage=6">6</a><a class="next" id="ngg-next-2" href="http://ebulletin.ppirusia.org/?p=197&amp;nggpage=2">&#9658;</a></div> 	
</div>


]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ebulletin.ppirusia.org/?feed=rss2&amp;p=197</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Myriam Ahli Fisika Wanita</title>
		<link>http://ebulletin.ppirusia.org/?p=112</link>
		<comments>http://ebulletin.ppirusia.org/?p=112#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Mar 2009 23:10:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[How do you know?]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ebulletin.ppirusia.org/?p=112</guid>
		<description><![CDATA[Memiliki nama lengkap Myriam P Sarachik, ia merupakan seorang ilmuwan fisika wanita yang menjabat presiden American Physical Society. Ia dilahirkan di kota Antwerp  Belgia pada tahun 1933. Myriam mengikuti sekolah dasar di Antwerp dan Havana, Kuba. Ia dan keluarganya melarikan diri dari negerinya Belgia yang telah diduduki oleh Nazi, mereka dipenjara di Perancis tapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" style="margin-left: 4px; margin-right: 4px; border: 1px solid black;" src="http://www.sci.ccny.cuny.edu/~sarachik/ProfSara.jpg" alt="" width="251" height="215" />Memiliki nama lengkap Myriam P Sarachik, ia merupakan seorang ilmuwan fisika wanita yang menjabat presiden <em>American Physical Society</em>. Ia dilahirkan di kota Antwerp  Belgia pada tahun 1933. Myriam mengikuti sekolah dasar di Antwerp dan Havana, Kuba. Ia dan keluarganya melarikan diri dari negerinya Belgia yang telah diduduki oleh Nazi, mereka dipenjara di Perancis tapi berhasil meloloskan diri ke Cuba.</p>
<p style="text-align: justify;">Perang dunia II telah menguatkan tekadnya untuk menjadi wanita yang tidak buta oleh ilmu pengetahuan dan teknologi. Pada tahun 1947, Myriam hijrah ke Amerika Serikat melanjutkan sekolah menengah atas di  <em>Bronx High School of Science </em>New York. Setelah lulus ia melanjutkan kuliah fisika di <em>Barnard College</em> ia lulus dengan prestasi <em>cum laude</em> pada tahun 1954. Setelah itu ia melanjutkan ke <em>Columbia University </em> mengambil <em>Master of Science</em> (lulus 1957) dan<em> Ph.D </em>(lulus 1960) dimana<em> </em>setahun sebelum mengambil master ia bekerja di Laboratorium IBM Waston, kemudian pada malam harinya ia mengajar di <em>CCNY</em> <em>(City College of New York) </em>selain itu ia juga salah satu staf teknik <em>Bell Telephone Laboratories </em>di Muraay Hill, New Jersey. Ia merupakan sosok wanita pekerja keras, patang menyerah dan memiliki dedikasi tinggi terhadap ilmu pengetahuan.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada September 1964 ia terpilih sebagai asisten profesor di <em>CCNY </em>kemudian pada tahun 1971 ia diangkat menjadi profesor. Ia bekerja sebagai pengajar ekskutif program Ph.D di Universitas <em>CUNY (City University of New York )</em> dari tahun 1975 sampai 1978.<span id="more-112"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Myriam P Sarachik merupakan sosok wanita langka, masa kecilnya dilalui dengan suasana perang, tidak membuat ia kehilangan semangat akan masa depannya, ia seorang mahasiswi yang tekun, hingga saat ini ia aktif dalam berbagai kegiatan penelitian, mengajar dan organisasi. Sebagai seorang ilmuwan,  ia akif melakukan penelitian dibidang fisika zat padat, ia telah menerbitkan hampir 150 jurnal ilmiah dan telah memberikan sumbangan penting dalam berbagai jenis bidang seperti superkonduktivitas, transisi logam-isolator dalam sistem dua tiga dimensi dan resonansi magnetisasi.</p>
<p style="text-align: justify;">Ibu satu orang anak ini mengabdikan diri sepenuhnya pada ilmu pengetahuan khususnya fisika, tidak diragukan lagi beberapa penghargaan berhasil diraihnya. Pada tahun 1995 ia menerima <em> New York City Mayor&#8217;s Award</em> untuk bidang ilmu pengetahuan dan tekhnlogi, kemudian pada tahun 2004 ia menerima dana <em>Sloan Public Service Award, </em>selain itu, pada tahun 2005 ia juga menerima dua penghargaan paling bergengsi yaitu <em>L&#8217;Oreal UNESCO</em> (diberikan untuk wanita yang berpengaruh dalam ilmu pengetahuan) dan <em>Oliver Buckley</em> untuk penghargaan fisika zat padat oleh <em>American Physical Society</em>. Benar-benar sosok wanita yag mengagumkan dengan seabrek aktivitas sebagai peneliti, pengajar maupun dewan penasehat dalam berbagai organisasi ilmu pengetahuan dunia seperti <em>National Academy of Sciences, American Academy of Arts and Sciences, American Physical Society, New York Academy of Sciences, American Association for the Advancement of Science.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Pada tahun 2006 Myriam P Sarachik menerima penghargaan Doctor kehormatan ilmu pengetahuan oleh <em>Amherst College</em>, Amerika Serikat. Ia merupakan seorang wanita yang layak untuk dicontoh oleh wanita saat ini, baik itu semangat, usaha, kerja keras maupun pengabdiannya pada ilmu pengetahuan untuk kepentingan umat manusia.</p>
<p style="text-align: justify;"> </p>
<p style="text-align: justify;"> </p>
<p align="right"><strong><strong>Patmah Fatoni</strong><br />
</strong></p>
<p align="right">Mahasiswi Magister TSU,</p>
<p align="right">Tula &#8211; Rusia</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ebulletin.ppirusia.org/?feed=rss2&amp;p=112</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kamera dan Pemilu</title>
		<link>http://ebulletin.ppirusia.org/?p=94</link>
		<comments>http://ebulletin.ppirusia.org/?p=94#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Mar 2009 21:00:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Science & Technology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ebulletin.ppirusia.org/?p=94</guid>
		<description><![CDATA[Mungkin santai bentar dari rutinitas yang ada, skripsi terus merenggut waktu dan tenaga, tapi inilah jalan yang harus ditempuh. Pergulatan waktu dan buku membuat semua menjadi kaku dan gatal. Kaku menjadi seorang yang sok pemikir dan gatal menjadi seorang yang kotor
Teringat obrolan pagi buta di facebook chat tentang kamera SLR ma pemilu. Kayaknya dari dua [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Mungkin santai bentar dari rutinitas yang ada, skripsi terus merenggut waktu dan tenaga, tapi inilah jalan yang harus ditempuh. Pergulatan waktu dan buku membuat semua menjadi kaku dan gatal. Kaku menjadi seorang yang sok pemikir dan gatal menjadi seorang yang kotor</p>
<p style="text-align: justify;">Teringat obrolan pagi buta di facebook chat tentang kamera SLR ma pemilu. Kayaknya dari dua &#8220;benda&#8221; ini mempunyai kesamaan yang sama walau tak sama. Ini juga masih &#8220;analisa&#8221; yang belum tentu bisa dipercaya kebenarannya alias subjektif banget.</p>
<p style="text-align: justify;">Pertama, dari &#8220;muter-muter&#8221; di internet terutama facebook, kayaknya semakin banyak orang yang &#8220;menggandrungi&#8221; fotografi. Bawa-bawa kamera SLR, kalau nggak, ya pose lagi moto, kira-kira begitu kebanyakan foto sekarang yang di &#8220;tempel&#8221; di foto profil facebook. Kayaknya itu yang lagi trend di Indonesia atau memang dunia dan temen-temen di Indonesia yang kebanyakan tukang foto alias fotografer. Apa memang harganya murah kamera gituan di Indonesia?</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 522px"><img title="Haruskah gambar ini?" src="http://darwadi.files.wordpress.com/2009/03/img_5892.jpg" alt="" width="512" height="384" /><p class="wp-caption-text">Haruskah gambar ini?</p></div>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-94"></span>Kedua, yang sama-sama lagi ngtrend di Indonesia, pemilu. Ni sama-sama ngtrend nih di Indonesia, Mungkin penulis akan sedikit &#8220;menceritakan&#8221; sedikit apa persamaannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelumnya, terima kasih telah ada ajaran demos kratos ini yang telah berada di tengah-tengah kita. Dengan banyaknya &#8220;suara&#8221; yang boleh &#8220;berbicara&#8221; dan alur pembagian suara yang terarah di lorongnya, partai politik.</p>
<p style="text-align: justify;">Sama halnya dengan sebuah kamera, kamera lama dan masih pake roll film, kayaknya harganya serupa dengan harga satu buah motor mungkin bisa lebih. Roll film peka cahaya dan tidak murah, sama kayak paragraf di atas, esensi dari roll film yang peka cahaya yang hanya bisa &#8220;diambil&#8221; dari kamera lama. Dan jika hasilnya fotonya gagal, harga yang cukup mahal untuk mengganti roll film, muskipun itu hanya satu layer.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi kembali lagi ke sang fotografer, apakah dia sudah cukup &#8220;umur&#8221; dalam fotografi. Mungkin ini yang terjadi di kita, peserta pemilu yang masih belum well educated. Yang ada sekarang, masyarakat kita capek dengan hingar-bingar pemilu. Penikmat pemilu adalah pelaku politik, bukan masyarakat. Yang orang banyak inginkan mungkin &#8220;bagaimana saya bisa makan, setidaknya sehari tiga kali&#8221; atau hal-hal serupa yang menggambarkan bagaimana saya hari ini bisa &#8220;hidup&#8221;.</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">Frued, &#8220;<em>manusia tak lebih dari libido maximixer, yang terus berusaha memaksimalkan pemenuhan keingingnan yang notabene berlangsung secara terus menerus&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;">Lacan, &#8220;<em>manusia selalu dalam kondisi kekuarangan, dan hanya hasrat yang mampu memnuhi kekurangan tsb.&#8221;</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Kalo di kamera mungkin, menyiapkan dari batrai, memori card atau roll film sekalipun. Seperti layaknya mau melakukan pemotretan. Semua harus di persiapkan sampai mental pun harus siap. Terkadang mood hilang atau ide tiba-tiba hilang. Niat membuat sebuah suatu karya seni akan tergantung dengan hati kita juga. Mungkin di agama Islam menyebutkan, semua hal semua tergantung dengan niat. Apakah sang fotografer siap dalam mental yang &#8220;suci&#8221; untuk menciptakan suatu karya seni?</p>
<p style="text-align: justify;">Rancangan &#8220;peta&#8221; pemotretan juga tidak lupa di siapkan, dari baleho-baleho, spanduk, sampai agitasipun disiapkan. Foto yang seperti apa yang diinginkan sang fotografer. Apakah, retro, klasik, modern atau postmodern sekalipun.</p>
<p style="text-align: justify;">Hal yang paling menarik, memilih model. Semua cantik, semua ganteng, semua punya badan yang proporsional, semua memenuhi syarat secara fisik tapi apakah kecantikan, kegantengan, kepropolsionalan itu juga berada di dalam diri sang model? Kayaknya untuk dunia fotografi itu semua tidak perlu, yang penting dia bisa secara fisik membawakan siapa dirinya dan seyum saat di foto. Tidak lupa beraksi yang menggairahkan, sehingga para penikmat foto menjadikannya idola favorit. Dan yang lebih gila lagi, saat sudah &#8220;jumpa penggemar&#8221;, mereka melakukan kegiatan &#8220;sosial&#8221;, biar para fans atau saingannya bisa lebih mantap dengan idolanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Terus saat sesi pemotretan selesai, bisa kita lihat. Siapa fotografer, siapa model, dimana lokasi pemotretan dan hasilnya seperti apa.</p>
<p style="text-align: justify;">Kamera dan pemilu sama-sama hal yang mahal bagi penulis, sama-sama hal yang membingungkan untuk menentukan angel-angel bagus, sama-sama menampilkan kebagusan atau pun kejelekan sekalipun.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p><strong>Darwadi</strong></p>
<p>Mahasiswa S-1 VGU,</p>
<p>Voronezh &#8211; Rusia</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ebulletin.ppirusia.org/?feed=rss2&amp;p=94</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Presiden Tanpa Partai Politik</title>
		<link>http://ebulletin.ppirusia.org/?p=86</link>
		<comments>http://ebulletin.ppirusia.org/?p=86#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Mar 2009 17:36:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Science & Technology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ebulletin.ppirusia.org/?p=86</guid>
		<description><![CDATA[Keputusan Mahkamah Konstitusi menolak permohonan uji materi UU pemilu untuk membuka jalan munculnya capres independen dalam panggung pemilu Indonesia merupakan salah satu isu menarik dalam pembelajaran demokrasi di Indonesia. Diantara kebebasan untuk memilih dan dipilih dalam sebuah pesta demokrasi, ternyata masih terdapat sebuah diskriminasi yang tidak demokratis menurut saya.
Mahkamah Konstitusi memutuskan bahwa tidak ada pasal-pasal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Keputusan Mahkamah Konstitusi menolak permohonan uji materi UU pemilu untuk membuka jalan munculnya capres independen dalam panggung pemilu Indonesia merupakan salah satu isu menarik dalam pembelajaran demokrasi di Indonesia. Diantara kebebasan untuk memilih dan dipilih dalam sebuah pesta demokrasi, ternyata masih terdapat sebuah diskriminasi yang tidak demokratis menurut saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Mahkamah Konstitusi memutuskan bahwa tidak ada pasal-pasal yang bertentangan antara UU pemilu dengan UUD 1945 seperti yang diajukan oleh pemohon. Namun, keputusan Mahkamah Konstitusi ini pun tidak diraih secara aklamasi karena dari delapan hakim yang menangani, tiga diantaranya menyatakan <em>dissenting opinion</em> (berbeda pendapat). Dari sini saja kita bisa menarik kesimpulan bahwa sebenarnya masih ada sesuatu yang &#8220;bertolak belakang&#8221; dalam sistem demokrasi Indonesia, khususnya UU pemilu.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun itu hanyalah sebuah wacana dari segi hukum, sebuah peraturan yang kita buat dan tentu saja dapat dirubah. Essensi dari hukum buatan manusia menurut saya adalah sebuah rangkaian peraturan yang harus kita patuhi untuk menciptakan keteraturan dalam berbagai hal yang diatur oleh hukum tersebut. Hukum ini menurut saya, bukan digunakan untuk menyatakan sesuatu itu salah atau benar. Hukum ini akan terus berevolusi mencari bentuknya yang terbaik sesuai masa nya.<span id="more-86"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Bagi saya, hal penting yang kemudian hilang dari penolakan uji materil UU pemilu ini adalah sebuah kesempatan untuk menggemboskan sebagian kekuatan dan pengaruh seluruh partai politik di Indonesia. Sebuah calon presiden independen yang bebas memiliki visi, misi, bekerja, dan bertanggungjawab tanpa sebuah parasit bernama &#8220;partai politik&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Mengapa saya bilang parasit? karena secara khusus, saya tidak pernah melihat manfaat yang diberikan sebuah partai politik di Indonesia sebagai sebuah institusi untuk secara langsung ikut mensejahterakan rakyat. Mereka hanya mencari kemenangan, untuk kemudian &#8220;berjanji&#8221; memberikan kesejahteraan kepada rakyat. Padahal seharusnya menurut saya, mensejahterakan rakyat adalah tujuan utama, dan &#8220;kemenangan&#8221; hanyalah faktor yang mengikuti. Mensejahterakan rakyat adalah tujuan, dan kemenangan partai di pemilu hanyalah akibat dari sebuah tujuan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dimata saya, semua partai politik di Indonesia belakangan ini terlalu jelas dan gamblang menampilkan keegoisannya, tidak malu menghalalkan segala cara untuk meraih dukungan, dan bahkan saling menjatuhkan satu sama lain seolah dirinya yang paling baik dan benar sedangkan orang lain adalah buruk dan salah. Semua yang berhubungan dengannya, memiliki hak dan kewajiban secara moril dan materil kepadanya. Kewajiban dan tanggung jawab terhadap partai yang mengusungnya lah kelak yang akan menjadi beban tersendiri bagi sang Presiden yang di usung oleh partai. Mustahil seseorang akan berbuat adil ketika dia berdiri disalah satu sisi timbangan.</p>
<p style="text-align: justify;">Memang tidak ada jaminan bahwa presiden dari calon independen memiliki kualitas yang lebih baik ketimbang calon presiden yang diusung oleh partai politik. Namun setidaknya menurut pendapat saya, dengan terbebasnya sang Presiden dari hak dan kewajiban terhadap partai yang mengusungnya, maka minimal dia tidak perlu terlalu repot memikirkan kepentingan partai dalam merumuskan berbagai kebijakan. Sang presiden juga dapat fokus mengurus kepentingan negara dan kesejahteraan rakyat tanpa harus (sekaligus) merangkap sebagai dewan pembina partai, atau bahkan ketua umum sebuah partai politik. Bahkan salah satu akibat konkrit dari (jika) terpilihnya seorang presiden dari capres independen, sang Presiden mungkin tidak akan segan-segan memilih lebih banyak teknokrat tulen yang akan diangkat menjadi menteri-menterinya, ketimbang mengangkat menteri-menteri berlatar belakang partai yang diangkat berdasarkan pembagian jatah partai, bukan karena kemampuannya pribadinya.</p>
<p style="text-align: justify;"> </p>
<p align="right"><strong>Busron Sodikun, S.Si</strong></p>
<p align="right">Mahasiswa RUDN, Moskow</p>
<p style="text-align: justify;"> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ebulletin.ppirusia.org/?feed=rss2&amp;p=86</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Layanan mobile internet dari operator seluler bukan layanan dedicated internet rumahan</title>
		<link>http://ebulletin.ppirusia.org/?p=82</link>
		<comments>http://ebulletin.ppirusia.org/?p=82#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Mar 2009 17:25:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Science & Technology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ebulletin.ppirusia.org/?p=82</guid>
		<description><![CDATA[Telah terjadi kesalah kaprahan yang luar biasa yang terjadi di Republik Indonesia dengan layanan mobile internet yang dikeluarkan oleh perusahaan telepon seluler tanah air. Mobile internet yang di dalam promosinya dicanangkan sebagai layanan internet bergerak untuk mendukung mobilitas penggunanya ternyata digunakan sebagai layanan dedicated internet pengguna rumahan. Dimana penggunaan datanya sangatlah ekstensive. Dalam hal ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Telah terjadi kesalah kaprahan yang luar biasa yang terjadi di Republik Indonesia dengan layanan <em>mobile internet</em> yang dikeluarkan oleh perusahaan telepon seluler tanah air. Mobile internet yang di dalam promosinya dicanangkan sebagai layanan internet bergerak untuk mendukung mobilitas penggunanya ternyata digunakan sebagai layanan <em>dedicated</em> internet pengguna rumahan. Dimana penggunaan datanya sangatlah ekstensive. Dalam hal ini <em>download</em> dan <em>upload file</em> berukuran besar, layanan <em>video streaming</em> berkualitas tinggi yang memakan <em>bandwith</em> sangat besar, tentu saja sangat berbeda bila dibandingkan dengan penggunaan <em>bandwith</em> perangkat seluler multimedia yang ukuran maksimal layarnya hanyalah 3,5 <em>inchi</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu pemborosan pite frekuensi yang sangat luar biasa. Patut diingat bahwa pita frekuensi untuk layanan seluler sangatlah terbatas. Untuk itu harus digunakan seefisien mungkin. Karena pada prinsipnya, pita frekuensi yang disediakan oleh pemerintah Indonesia untuk operator seluler tidaklah terlalu lebar. Berkisar antara 10 Mhz &#8211; 30 Mhz, untuk masing-masing operator seluler.</p>
<p><span id="more-82"></span></p>
<p align="center"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3408/3296180832_be2f128da6_o.jpg" alt="" width="500" height="254" /></p>
<p> </p>
<p style="text-align: justify;">Alokasi pita frekuensi radio sendiri harus berebut dengan alokasi-alokasi lain untuk layanan satellite, maritime, radar sampai dengan penggunaan keperluan militer. Sehingga penggunaan layanan <em>mobile internet</em> sebagai <em>dedicated</em> internet rumahan dikhawatirkan dapat mengganggu pengguna seluler lain yang membutuhkan pita frekuensi untuk layanan suara maupun layanan internet bergerak di handset mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekaligus merugikan nama baik operator yang telah menjanjikan kecepatan koneksi internet yang luar biasa untuk layanan <em>mobile internet</em> baik berbasis 3G maupun CDMA ataupun EVDO. Tetapi ternyata telah disalahgunakan sehingga kualitasnya tidak bisa maksimal lagi. Bagaimanapun sekali lagi perlu ditekankan, layanan kecepatan tinggi ini ditujukan untuk layanan data/internet yang terdapat pada perangkat telepon seluler multimedia, bukan pengguna rumahan yang selama 24 jam relatif aktif terus menerus.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak bisa disalahkan di Republik Indonesia, dengan beralasan mahalnya biaya infrastruktur koneksi data/internet. Suatu hal yang sebenarnya menampar telak muka PT. Telkom sebagai incumbant yang menguasai pangsa pasar terbesar layanan internet rumahan maupun bisnis. PT. Telkom yang selama ini mengeluh pangsa pasar telepon kabelnya terus menerus menurun atau bahkan bisa dikatakan merugi karena tidak bisa bersaing dengan layanan seluler, dalam hal ini telah dapat memberikan harga yang lebih rendah karena investasi awal tidaklah semahal telepon kabel dan mempunyai kelebihan dalam hal mobilitas. PT. Telkom seharusnya bisa menganggap jaringan kabel tembaganya sebagai aset emas untuk mendapatkan pelanggan yang lebih banyak di ceruk calon pelanggan yang membutuhkan koneksi data. Karena kabel tembaga tidaklah seperti pita frekuensi radio yang termasuk dalam jenis terbatas dan tidak terbaharukan. Kabel tembaga dapat dilipatgandakan kecepatannya dengan teknologi DSL dan turunannya dan dapat ditambah secara fisik sebanyak apapun yang kita mau tanpa mengganggu pihak lain karena hanya memakan tempat yang relatif kecil.</p>
<p style="text-align: justify;">Paradigma divisi telepon kabel PT. Telkom harus dirubah. Bukan lagi mengandalkan pemasukan dari layanan suara, tetapi lebih ke dalam pelayanan data/internet. Tentu saja harus diimbangi dengan penurunan tarif layanan data/internet yang lebih mengedepankan kuantitas jumlah pelanggan daripada kecepatan keterkembalian modal. Sekaligus menyatukan divisi multimedia PT.Telkom menjadi terintegrasi dengan divisi telepon kabel. Bukan seperti pada saat ini yang berjalan dalam dua divisi terpisah.</p>
<p> </p>
<p align="right"><strong>Darmawan Wicaksono</strong></p>
<p align="right">Mahasiswa Magister MADI-GTU,</p>
<p align="right">Moscow, Rusia</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ebulletin.ppirusia.org/?feed=rss2&amp;p=82</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saatnya berfikir positif dan percaya diri</title>
		<link>http://ebulletin.ppirusia.org/?p=57</link>
		<comments>http://ebulletin.ppirusia.org/?p=57#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Feb 2009 20:31:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Science & Technology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ebulletin.ppirusia.org/?p=57</guid>
		<description><![CDATA[Rasanya saya tidak perlu panjang lebar menceritakan galau-nya perekonomian dunia saat ini. Segala macam bentuk kemunduran pertumbuhan ekonomi, penumpukan hutang, penurunan target penjualan, terganggunya kegiatan ekspor-impor,kredit macet dan seterusnya, telah membuat kita berada di satu posisi terjepit yang seolah-olah tidak mempunyai banyak pilihan selain &#8220;ikhlas&#8221; dengan naiknya harga-harga bahan pokok, tingginya pembiayaan cicilan kredit, dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;">Rasanya saya tidak perlu panjang lebar menceritakan <em>galau</em>-nya perekonomian dunia saat ini. Segala macam bentuk kemunduran pertumbuhan ekonomi, penumpukan hutang, penurunan target penjualan, terganggunya kegiatan ekspor-impor,kredit macet dan seterusnya, telah membuat kita berada di satu posisi terjepit yang seolah-olah tidak mempunyai banyak pilihan selain &#8220;ikhlas&#8221; dengan naiknya harga-harga bahan pokok, tingginya pembiayaan cicilan kredit, dan bahkan PHK. Semuanya terasa begitu gelap dan suram. Setelah pada tahun 1998 yang lalu perekonomian kita babak belur, maka kali ini tepat 10 tahun sesudahnya, ancaman bakal porak poranda-nya sendi-sendi perkonomian kita seolah begitu nyata mengancam di pelupuk mata.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika tahun lalu, kalangan ekonom dan pengusaha kita sibuk menyalahkan pemerintah dengan segala permasalahan kebijakan, hutang dan faktor KKN yang akut, maka akhir tahun 2008 kemarin ekonom dan pengusaha kita berbalik 180 derajat dengan bersikap terbuka, untuk bahu membahu mengatasi dampak krisis global yang mengancam Indonesia. Pemerintah mengundang ekonom dan pebisnis indonesia untuk duduk satu meja, saling dengar pendapat dan masukan, serta mengatur strategi untuk menghadapi dampak kebangkrutan ekonomi Amerika. Adalah kewajiban pemerintah untuk tetap menjaga kestabilan ekonomi dan moneter bangsanya, dan dilain pihak tidak ada pengusaha yang ingin merugi dalam berbisnis, ditambah lagi kemampuan ekonom kita yang terus belajar atas pengalaman pahit satu dekade lalu, memberikan semangat baru dalam basis pertahanan ekonomi dan moneter Indonesia sebagai sebuah bangsa. Oleh karena itu kali ini secara umum Indonesia mempunyai &#8220;kesempatan&#8221; yang lebih baik untuk melewati krisis sekaligus tetap menjaga pertumbuhan ekonominya.<span id="more-57"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Meskipun krisis pada awalnya terjadi di Amerika, namun jangan heran kalau dampaknya bisa sampai ke Indonesia. Selain karena Amerika adalah &#8220;pemain utama&#8221; perdagangan internasional dengan mata uang dollar-nya yang menjadi mata uang internasional, Indonesia juga masih termasuk negara yang bergantung secara ekonomi kepada Amerika dengan banyaknya Penanaman Modal Asing (PMA) Amerika di Indonesia dan pasar Amerika yang menjadi salah satu negara utama tujuan ekspor kita. Akhirnya, seiring dengan bangkrutnya mereka, dengan efek domino, maka kebangkrutan ekonomi juga segera menghantui negara-negara yang bekerja sama dengan mereka termasuk Indonesia. Nilai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) jatuh total sampai hampir 50%, rupiah kemudian &#8220;terlepas&#8221; sampai level 12.000-an, dan bahkan target pertumbuhan ekonomi akhirnya direvisi menjadi hanya 4,5% dari target awal 6% untuk tahun 2008 kemarin.</p>
<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;">Namun ditengah keadaan yang serba negatif itu, ekonomi Indonesia terbukti tidak tinggal &#8220;kandas&#8221; sampai dengan saat ini. Pemerintah, lembaga keuangan dan ekonom kita, saling bahu membahu mengeluarkan semua jurus yang mampu dan bisa dilakukan untuk menahan laju kemunduran ekonomi kita. Saya pribadi merasa cukup tenang dan percaya dengan kepemimpinan Bapak Boediyono, Ibu Sri Mulyani dan juga Ibu Miranda Gultom dalam menghadapi ancaman krisis ekonomi kali ini. Meskipun perjuangan belum berakhir, namun langkah cepat tanggap dan tegas yang mereka ambil, berhasil menjauhkan Indonesia dari kebangkrutan ekonomi yang sama, atau bahkan lebih buruk dari tahun 1998 yang lalu. Beberapa kebijakan yang diambil sempat bikin orang cemas dan bertanya-tanya, seperti (malah) menaikan suku bunga sampai level 9,25% (meskipun akhirnya diturunkan pada 7 Januari 2009 ke level 8,75%) disaat semua Bank sentral negara lain ramai-ramai menurunkan suku bunga untuk melonggarkan likuiditas.</p>
<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;">Bank sentral Indonesia yang fungsinya dijalankan oleh BI, bukanlah anak kemarin sore. Kenaikan suku bunga itu sengaja dilakukan untuk mengamankan &#8220;lari&#8221;nya uang simpanan bank kita keluar negeri dan memperketat sirkulasi uang di dalam negeri untuk menekan inflasi, sekaligus menahan laju kredit yang tidak sehat termasuk kredit yang sifatnya konsumtif. Suatu keputusan yang tepat sehingga akhirnya indonesia tidak sampai kekeringan likuiditas, tidak terjadi aktifitas penarikan uang besar-besaran di bank yang menimbulkan dampak negatif moneter Indonesia seperti yang terjadi pada tahun 1998, serta efektif menekan laju pemberian kredit bank-bank komersil yang relatif &#8220;berbahaya&#8221; di tengah ketatnya likuiditas. Keputusan yang tepat, juga berani. Mengapa saya bilang berani? karena dibalik keputusan tingginya suku bunga tersebut terdapat beberapa kredit berjalan yang berpotensi NPL (<em>Non Performing Loan</em>) atau kredit macet yang dapat mengganggu likuiditas nasional, belum lagi resiko pandangan negatif dari dalam negeri sendiri yang kecewa dengan keputusan kontroversial itu. Namun meskipun resikonya cukup besar, tapi menurut saya ini adalah sebuah keputusan tepat, keputusan yang diambil dari pengalaman dilapangan dan bukan menurut arahan IMF.</p>
<p style="text-align: justify;">Keputusan lain yang cukup mengerutkan kening kita adalah menetapkan <em>blanket guarantee</em> yg tidak 100% (hanya 2 milyar rupiah), meskipun Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menyatakan siap menjamin 100% dana nasabah jika memang pemerintah menginginkannya, namun pihak BI menyatakan &#8220;tidak perlu&#8221;. Penetapan penjaminan dana nasabah sebesar 2 milyar rupiah, sengaja dibuat untuk memaksa bank-bank komersial lebih hati-hati dan selektif dalam memberikan kredit yang berkualitas, karena kalau sampai dijamin 100%, niscaya bank-bank tersebut akan gencar habis-habisan menyalurkan kredit tanpa memikirkan cadangan <em>cash reserve</em> mereka, karena mereka berfikir semua uang telah dijamin oleh pemerintah, dan ketika NPL mulai bermunculan akibat buruknya seleksi kredit, kekeringan likuiditas menjadi &#8220;malaikat maut&#8221; bagi bank-bank tersebut persis seperti kejadian tahun 1998. Keputusan ini sangat kontradiktif sekali melihat kenyataan negara tetangga Malaysia dan Singapura sudah memberikan perlindungan dana nasabah 100%, dimana sangat mungkin orang-orang kaya indonesia atau perusahaan-perusahaan besar Indonesia akan mengalihkan dananya untuk disimpan di luar negeri untuk mendapatkan jaminan 100%. Tapi tim ekonomi kita pun bukan tidak pintar, makanya mereka menaikan suku bunga bank sentral, dua keputusan yang kontradiktif tapi tepat dan yang paling penting adalah &#8220;cocok&#8221; untuk diterapkan di perbankan Indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;">Hal yang paling mendasar yang harus kita ketahui dan dicamkan baik-baik adalah Indonesia sebenarnya tidak dalam kondisi krisis. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2008 kemarin tetap positif, meskipun secara angka turun dari target sebelumnya. Pemberitaan negatif dari beberapa media lah yang membentuk kekhawatiran berlebih sehingga seolah-olah ekonomi kita benar-benar segera akan bangkrut. Beberapa sektor bisnis dan perbankan memang terpukul, seperti menurunnya nilai ekspor dan pertumbuhan kredit yang melambat, namun semuanya masih dalam kategori wajar terjadi di Indonesia sebagai negara yang juga ikut dalam aktifitas perbankan dan perdagangan internasional. Salah satu langkah awal untuk ikut membantu mengembalikan kecepatan pertumbuhan ekonomi yang melambat adalah dengan membuat satu sentimen positif kepada pasar, tidak asal mendengar pemberitaan yang negatif dan sekali lagi, kita harus percaya bahwa kondisi ekonomi dan moneter kita masih dalam kategori &#8220;wajar&#8221;, apalagi ditambah berita gembira dari menurun tajamnya harga minyak mentah dunia yang menambah kelonggaran dalam beban APBN. Semuanya jadi lebih menjanjikan lagi dengan posisi hutang kita di tahun 2008 yang &#8220;hanya&#8221; sekitar 30% dari PDB dibandingkan dengan tahun 1998 sebesar 50%, ditambah lagi semua hutang kali ini adalah hutang yang tidak bergantung pada IMF (dan semoga untuk selamanya kita tidak berhubungan lagi dengan IMF). Terakhir, yang harus kita syukuri adalah kita juga memiliki jajaran tim ekonomi dan moneter yang &#8220;ada&#8221; kualitasnya, ini yang paling penting dan membanggakan. Jadi walaupun kondisi perekonomian global masih belum kondusif dengan meningkatnya pengangguran dan perlambatan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan, namun saya percaya Indonesia masih bisa tetap bertahan dari deraan krisis kali ini.</p>
<p><em>think positive for a positive result&#8230;;)</em></p>
<p align="right"><strong>Busron Sodikun, S.Si</strong></p>
<p align="right">Mahasiswa RUDN, Moskow</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ebulletin.ppirusia.org/?feed=rss2&amp;p=57</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lev Nikolaevich Tolstoy</title>
		<link>http://ebulletin.ppirusia.org/?p=44</link>
		<comments>http://ebulletin.ppirusia.org/?p=44#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Feb 2009 16:31:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[How do you know?]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ebulletin.ppirusia.org/?p=44</guid>
		<description><![CDATA[
Moskow, akhir Desember 2008. Salju menyergap kota. Cuaca bergerak di angka -10 derajat; dingin, putih, indah, sekaligus romantis. Di jantung kota, Jalan Ilva Tostowo, di atas tanah seluas kurang lebih tiga hektare, berdiri rumah kayu yang kokoh berwarna cokelat; begitu tua, sarat sejarah, dan kenangan. Di sanalah Lev Nikolaevich Tolstoy, pemikir, penulis besar yang pernah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;"><img class="aligncenter size-full wp-image-49" title="tolstoy" src="http://ebulletin.ppirusia.org/wp-content/uploads/2009/02/tolstoy.jpg" alt="tolstoy" width="300" height="350" /></p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">Moskow, akhir Desember 2008. Salju menyergap kota. Cuaca bergerak di angka -10 derajat; dingin, putih, indah, sekaligus romantis. Di jantung kota, Jalan Ilva Tostowo, di atas tanah seluas kurang lebih tiga hektare, berdiri rumah kayu yang kokoh berwarna cokelat; begitu tua, sarat sejarah, dan kenangan. Di sanalah Lev Nikolaevich Tolstoy, pemikir, penulis besar yang pernah dimiliki Rusia tinggal bersama istri dan ke-13 anaknya.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">Memasuki rumah itu adalah memasuki museum kenangan yang mengagungkan; rapi, dialogis, dan penuh dengan mimpi orang tua tentang masa depan anak-anaknya. Rumah Tolstoy adalah rumah yang penuh dengan artistik ruang dengan segala peran; tempat berteduh, berbincang, berkarya sekaligus membesarkan dan mewujudkan harapan-harapan akan masa mendatang. Dari rumah itu pula ketiga karya fenomenalnya terlahir; Perang dan Damai, Anna Karenina, dan Hari Minggu. Melangkahkan kaki ke rumah itu, serasa Tolstoy hadir di depan pintu dan menyapa; &#8221;Selamat datang kawan, selamat datang di rumah kami, nikmati apa yang ada.&#8221;<span id="more-44"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Aristokrat di Jalan Sunyi</p>
<p style="text-align: justify;">Lahir di Kazan, daerah selatan Rusia, tahun 1828, Lev Nikolaevich Tolstoy hadir ke bumi saat rezim Tsar berkuasa Nikolai II. Terlahir dari orang tua kaya dan tuan tanah, Tolstoy akan menjalani hidup melanjutkan kemapanan orang tuanya; aristokrat, pemilik beribu tanah dan pekerja (baca: petani). Namun, di usianya yang masih terlalu kecil, kurang dari 10 tahun, ia sudah ditinggalkan ibunya untuk selamanya. Tolstoy tidak bisa memahami mengapa ibu yang dicintainya mati begitu cepat. Saat itu ia masih kecil untuk bisa mengerti mengapa orang yang melahirkannya terlalu dini pergi dan tidak pernah kembali. Tapi, waktu terus berjalan, Tolstoy tidak bisa terus meratapi akan kepergian sang bunda. Ibunya boleh meninggalkan dia selamanya, tapi masa depan hidupnya terus berlanjut. Tolstoy tidak bisa terus bertanya, mengapa ibunya mati saat dirinya belum cukup mengerti akan arti hidup dan mati. Dan, Tolstoy memutuskan ia harus bisa berlanjut dengan hidupnya meski tanpa ibu. Maka, saat ia menginjak remaja, Tolstoy menggantungkan masa depannya lewat pendidikan. Dengan kekayaan yang dimiliki orang tuanya, Tolstoy memutuskan kuliah di universitas tempat kota yang melahirkannya, Kazan. Di kampus, awalnya, Tolstoy memilih belajar di departemen dan fakultas filosofi. Setelah menyelesaikan studi filsafatnya, Tolstoy meneruskan ke fakultas <em>yuridiceski</em> (fakultas hukum).</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">Sesudah menyelesaikan proses pendidikan formalnya, Tolstoy memutuskan tidak bekerja di St. Piterburg, kota harapan saat itu. Ia memilih menjadi tuan tanah, melanjutkan kearistokratan orang tuanya. Ia kembali dan tinggal di desa orang tuanya di mana beribu hektare serta 330 petani sudah menunggunya. Di desa orang tuanya, Yasnaya Poliyana, Tolstoy menggarap dan memperkejakan ratusan petani. Namun, pada akhirnya, Tolstoy memilih meninggalkan dunia tuan tanah yang penuh gemerlap harta benda dan membubarkan para petaninya. Ia memilih jalan sunyi yang jauh dari hiruk-pikuk duniawi. Tolstoy memilih jalan kepenulisan, jalan yang jauh dari tepuk tangan dan sanjungan. Jalan yang jauh dari kemegahan dan kemapanan.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">Maka, Tolstoy pun memutuskan pergi meninggalkan desanya menuju kota harapan baru, Rusia. Di sana, pada 1881, ia membeli tanah berukuran kurang lebih tiga hektare. Di atas tanah itu, Tolstoy mendirikan rumah dengan bangunan kayu bertingkat dua. Rumah dengan segala harapan; keluarga besar dengan segudang mimpi, dan tempat lahirnya karya-karya besarnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Rumah Penuh Inspirasi</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221;Aku akan bahagia, jika engkau bagus dalam pendidikanmu,&#8221; seru Tolstoy terdengar samar dalam rekaman yang selalu diputar setiap ada tamu yang berkunjung ke rumah tuanya. Suara dengan Bahasa Rusia itu merupakan petuah sekaligus harapan Tolstoy terhadap anak-anaknya. Harapan tentang peradaban yang dibangun di atas dunia pendidikan. Bagi Tolstoy, pendidikan anak adalah segalanya. Karena Tolstoy percaya bahwa pendidikan mampu mengubah dunia; menciptakan kebudayaan, mengukir sejarah, merekayasa dunia menjadi lebih adil dan manusiawi. Karena memang pendidikan memiliki segala hal untuk melakukan perubahan; konsep, gagasan, sistematika, dan kekuatan.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk menciptakan pendidikan yang baik bagi anak-anak, Tolstoy berkeyakinan harus diawali dari lingkungan keluarga. Keluarga adalah institusi terkecil di mana seorang anak bisa memulai membangun mimpi-mimpi dan imajinanasinya. Keluarga yang kering hanya akan menciptakan ketumpulan imajinasi anak; ia hanya melahirkan anak yang gampang panik dan generasi penakut.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena itu, bagi Tolstoy, keluarga harus mampu menciptakan pendidikan yang baik bagi anak-anak yang hidup di dalamnya; ada ruang dialog, ada ruang kreatif, ada waktu bermimpi, dan imajinasi konstruktif yang harus terus dipelihara sampai mereka mampu memilih akan peradabannya sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Itulah kenapa di rumah tua Tolstoy begitu banyak ruang untuk ke-13 anaknya. Semua anaknya oleh Tolstoy diberi ruang sendiri untuk beristirahat dan beraktivitas. Tolstoy yakin anak juga harus memiliki ruang privasinya di mana orang lain, termasuk orang tuanya, tidak bisa menyentuhnya. Tapi di balik ruang privasi itu, anak harus memiliki ruang dialog dengan yang lain. Ruang apresiasi untuk ekspresi eksistensi sosialnya; dengan orang di luar dirinya. Dalam konteks itulah, rumah besar Tolstoy menyediakan ruang belajar untuk ke-13 anaknya. Ruang yang juga tempat bermain itu berada di lantai satu; begitu luas, satu meja belajar besar, dan seperangkat permainan masih tersimpan rapi di sana.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">Di samping ruang belajar, ruang sosial di rumah Tolstoy adalah ruang tamu dan ruang stalovaya (ruang makan besar). Di ruang tamu terhampar meja besar dengan landasan karpet merah. Di ruang lantai dua itu Tolstoy biasa menerima tamu dan memperkenalkan ke-13 anaknya kepada setiap tamu yang datang. Perjumpaan anak dengan &#8221;orang lain&#8221; adalah pertemuan sosial di mana anak diharapkan belajar dan memahami bahwa di luar diri dan keluarganya terdapat orang lain yang juga memiliki makna penting. Sedangkan stalovoya bagi Tolstoy adalah tempat makan sekaligus dialog terbuka bagi dia dan semua anaknya. Tolstoy berkeyakinan bahwa makan bukan saja persoalan aktivitas pemenuhan terhadap kebutuhan lapar. Tapi makan juga bisa jadi sarana untuk berkomunikasi yang akrab untuk lebih saling mengenal kepribadian masing-masing anaknya.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">Begitulah Tolstoy dalam memaknai rumah sebagai pendidikan awal bagi anak-anaknya. Rumah Tolstoy adalah rumah yang penuh inspirasi dalam berkarya dan membangun peradaban. Dari rumah tuanya Tolstoy telah dikenal dunia lewat ketiga karyanya. Dari rumah tuanya Tolstoy mengantarkan ke-13 anaknya mengukir dunia. Dari rumah tuanya Tolstoy telah menjadi inspirasi bagi peradaban dunia. Lantas, mampukah kita menjadikan rumah sebagai inspirasi bagi hidup dan mimpi anak-anak kita? (*)</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">
<p align="right">
<p align="right"><strong>Khoirul Rosyadi</strong></p>
<p style="text-align: right;">Mahasiswa S-3 RUDN Moskow, Rusia, dan</p>
<p style="text-align: right;">dosen Sosiologi Universitas Negeri Trunojoyo Madura</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ebulletin.ppirusia.org/?feed=rss2&amp;p=44</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Matahari masih di ufuk timur</title>
		<link>http://ebulletin.ppirusia.org/?p=42</link>
		<comments>http://ebulletin.ppirusia.org/?p=42#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Feb 2009 16:28:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Art & Literature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ebulletin.ppirusia.org/?p=42</guid>
		<description><![CDATA[Perasaan yang mulia mendekati kita
Di hati mereka mengharap makanan
Cinta yang membara kepada tanah air
Cinta untuk kuburan sang ayah
 
-A.C. Phuskin-
Sebelumnya penulis ingin mengenalkan A.C. Phuskin, seorang penulis yang cukup termasyur di tanah airnya, Rusia. Tulisan ini pun hanya bagaian kecil dari pemikiran penulis tentang Indonesia. Manusia ingin berbeda demi pengakuan atas dirinya, begitu pula sebuah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Perasaan yang mulia mendekati kita</em></p>
<p><em>Di hati mereka mengharap makanan</em></p>
<p><em>Cinta yang membara kepada tanah air</em></p>
<p><em>Cinta untuk kuburan sang ayah</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>-A.C. Phuskin-</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelumnya penulis ingin mengenalkan A.C. Phuskin, seorang penulis yang cukup termasyur di tanah airnya, Rusia. Tulisan ini pun hanya bagaian kecil dari pemikiran penulis tentang Indonesia. Manusia ingin berbeda demi pengakuan atas dirinya, begitu pula sebuah bangsa. Kita masih punya harga diri dan kita tidak bisa terpatok pada situasi yang ada dan dominasi-hegemoni. Kita merupakan bangsa yang kaya, besar tapi kenapa hingga saat ini kita masih terpuruk dengan adanya dominasi-hegemoni asing. Meraung-raung hingga kelaparan di rumah kita sendiri. Sudah cukup bangsa kita menjadi Negara yang pragmatis, menjadi pembeli pertama, bangga akan hasil karya asing dan terbuai akan dunia utopia yang berstatus metropolitan. Ini merupakan kisah klasik.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">Populi Vacante, kekosongan masyarakat.<span id="more-42"></span></p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">Sejarah kita sendirilah yang menghancurkan kita, dan kita terus percaya akan mitos-mitos lama yang disebar oleh para &#8220;pemikir-pemikir&#8221; gadungan era 32 tahun &#8220;penjajahan&#8221;. Era keterpurukan masih akan terus berlanjut hingga suatu era &#8220;pencerahan&#8221; datang.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">Setiap tahun bangsa kita menghasilkan manusia-manusia berpengetahuan luas, tapi hanya sedikit menjadi yang menjadi &#8220;dirinya sendiri&#8221;. Imperialisme kolonialisme belanda mewariskan sekolah-sekolah etisi yang ilmu pengetahuannya adalah belas kasih masyarakat terdidik kepada golongan masyarakat tidak terdidik. Wadah mental mau menang sendiri dan kekasaran tidak peduli sebagai lahan subur penindasan.</p>
<p style="text-align: justify;">Permainan sulap yang hebat, masuk dalam lembah gelap imperialis baru dan hilanglah jati dirinya. Bangsa yang besar, bangsa yang tidak pernah menghargai hasil jerih payah seseorang, berdalil kita belum bisa melakukan itu karena keterbatasan kita. Penulis mungkin lebih menikmati semua ini dari kejauhan, dan penulis akan terus menikmati ini. Kemampuan berpikir kita telah di batasi oleh golongan-golongan partikelir yang mengklaim dirinya benar. Pembodohan massal.</p>
<p style="text-align: justify;">Buku suci perubahan adalah logika sosial yang terbentuk dari bukan hanya satu, dua atau tiga kelas sosial tapi juga semesta kesadaran yang mengendap, mendasari relasi sosial antar kelas dalam masyarakat. Tapi sekarang apakah masyarakat kita mau bergerak? Apakah masyarakat kita mau bersatu? Dan saat ini, perkembangan budaya barat, menjadi pertanyaan bagi penulis, apakah itu merupakan simbiosis atau konflik kepentingan. Sudah tentu, perkembangan pasar kapital dengan dalil demokrasi menciptakan lahan pasar yang menuntungkan. Tapi disisi lain, ketergantungan inilah yang membuat masyarakat kita menjadi budak. Tergesernya rasa cinta terhadap tanah air atau mungkin merasa malu dengan tanah air menjadi masyarakat madani bangsa lain. Hal yang memilukan dan ironi.</p>
<p><em>Selama matahari masih di ufuk timur, namamu didarahku</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Semua pesimis tak mau teleskopis</em></p>
<p><em>Tak mau tau dekadensi moral mengikis</em></p>
<p><em>Konyol karena menginggalkan kode etis</em></p>
<p><em>Hukum pun kini tiada yang logis</em></p>
<p><em>Khasah masa lampau telah banyak terenggut</em></p>
<p><em>Di ikuti interpretasi risalah yang kusut</em></p>
<p><em>Dia yang lemah yang kan bertekukuk lutut</em></p>
<p><em>Hukum rimba lah yang akan dianut</em></p>
<p><em><br />
</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p align="right"><em> </em><strong>Darwadi</strong></p>
<p align="right">Mahasiwa S-1 VGU,</p>
<p align="right">Voronezh &#8211; Rusia</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ebulletin.ppirusia.org/?feed=rss2&amp;p=42</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
